PERAN KEPEMIMPINAN: Counseling, Coaching, dan Mentoring (Bagian 2)

Posted by Administrator, Category Human Resource Management

PERAN KEPEMIMPINAN: Counseling, Coaching, dan Mentoring (Bagian 2)

Di era yang makin maju seperti sekarang ini, para pemimpin dituntut untuk lebih mengembangkan kapasitasnya, sehingga dapat juga menjalankan fungsi counseling,coaching, dan mentoring terhadap tim yang dipimpinnya. Dengan demikian, hasil yang dicapai dalam pengembang tim akan signifikan sebagai bagian ari konsep motivational leadership. Inilah tiga kemampuan lain yang mesti dikuasai oleh seorang leader.

Coaching. Semua pemain professional memiliki pelatih. Pemain golf sekaliber Tiger Woods, pemain bulu tangkis Taufik Hidayat, Pemain tennis Novac Jokovic, dan pemain atau tim lainnya juga memiliki pelatih (coach). Padahal jika mereka mengajak pelatihnya untuk bertanding, sudah pasti pelatih akan kalah. Jadi mengapa mereka yang sudah professional itu masih butuh pelatih padahal jelas pemain tersebut lebih hebat dari pelatihnya? Tujuannya adalah untuk melihat hal-hal yang tidak dapat dilihat oleh pemain itu sendiri – bagaimana ayunan sticknya, bagaimana menentukan strategi yang tepat untuk menghadapi lawan, kapan harus bertahan dan kapan harus menyerang, dan banyak hal lain lagi. Hal yang tidak dapat kita lihat dengan mata sendiri itulah yang disebut dengan blind spot atau area gelap (titik buta). Kita hanya bisa melihat blind spot tersebut dengan bantuan orang lain. Para pemimpin yang berperan sebagai coach mesti melihat apa yang masih kurang, yang belum maksimal dikerjakan oleh para stafnya. Bahkan mereka bertugas untuk memperbesar kapasitas orang-orang yang dipimpinnya. Mungkin selama ini, anak buah menilai bahwa usaha mereka sudah maksimal, target yang ditetapkan sudah tinggi, jadi sasaranya tidak perlu dinaikkan lagi.  Namun sebagai pelatih, Anda harus membongkar zona aman tersebut. Dengan berbuat seperti itu, Anda mengeluarkan potensi terbaik dari para “pemain” Anda. Mereka yang tadinya kurang yakin, tidak percaya diri, merasa tidak mampu, karena dilatih dan diarahkan menjadi lebih produktif. Hal penting lainnya yang mesti Anda kerjakan saat men-coaching orang-orang adalah dengan banyak bertanya. “Apa yang perlu dilakukan untuk meningkatkan angka penjualan? Apa yang dilakukan untuk membuat pelanggan tetap loyal? Produk atau jasa baru apa yang bisa diproduksi untuk menambah varian dalam penjualan?” Pertanyaan-pertanyaan seperti itu akan memacu bawahan Anda untuk berpikir kreatif bahkan memunculkan potensi mereka sebenarnya (bersambung…) – sumber: Motivational Leadership; 2015; Haryanto Kandani)